Irwan mengatakan, pemanfaatan AUMR bukan untuk level masyarakat (rumah tangga), bahkan untuk pengoperasiannya di rumah sakit pun, ruang harus bebas dari manusia.
“Bila ada tenaga medis atau pasien di dalamnya harus terlindungi dari paparan UVC. UVC bisa menyebabkan kanker kulit atau katarak pada mata dalam jangka panjang. Karena itu, kami menggabungkan UVC dengan mobile robot ini untuk menghindari peran manusia dalam proses sterilisasi tersebut,” kata Irwan, melansir Lipi.go.id.
Idealnya, kata Irwan, UVC yang dibawa oleh AUMR ini bisa mensterilisasi dirinya sendiri dari paparan virus selama proses sterilisasi itu berlangsung. “Tapi sampai saat ini kita belum melakukan pengecekan bagian blankspot di AUMR yang tidak terkena cahaya sinar UVC yang dibawanya,” katanya.
Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ratih Asmana Ningrum mengatakan, satuan kerjanya berperan untuk uji efektivitas robot sebagai sterilizer. Proses pengujian alat dilakukan di laboratoroum BSL-3 di Cibinong.
Menurut Ratih, mengenai teknis pengujian alat, pihaknya menguji kemampuan robot untuk mensterilisasi ruangan. Untuk tahap awal, yang diuji kemampuan terhadap bakteri. Jadi akan dibandingkan jumlah bakteri sebelum dan sesudah penyinaran.
Pengujian dilakukan di beberapa tipe ruangan: ruangan tekanan positif (seperti ruangan operasi), ruangan tekanan negatif (ruangan isolasi) dan ruang umum.





Komentar tentang post