Darilaut – Lebih dari lima dekade lalu, populasi perkembangbiakan tuna sirip biru Atlantik (Atlantic Bluefin Tuna) mulai terlihat menurun.
Tuna sirip biru Atlantik yang termasuk salah satu spesies ikan yang terancam punah tersebut kini telah dibudidayakan di Laut Izmir, Turki.
Tuna sirip biru Atlantik yang dibudidayakan di Laut Izmir berasal dari hasil penangkapan di alam. Kemudian dengan cara digiring perlahan-lahan ke lokasi budidaya.
Proses pembesaran ikan tuna tersebut memakan waktu lima sampai enam bulan di keramba berukuran 50 sampai 60 meter pada kedalaman hingga 18 meter.
Selama pembesaran, tuna diberi pakan ikan-ikan pelagis.
Teknologi budidaya ini rencananya siap diadopsi di Indonesia untuk mendongkrak hasil perikanan bernilai ekonomi tinggi tersebut.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengunjungi lokasi budidaya pembesaran tuna di Laut Izmir.
Menteri Trenggono, mengatakan, beberapa wilayah perairan kita merupakan tempatnya ikan tuna, sehingga perlu inovasi agar komoditas ini produktivitasnya meningkat dan keberlanjutannya terjaga.
Kunjungan Menteri Trenggono bertepatan saat dilakukan panen tuna. Ikan-ikan hasil panen langsung dibawa ke Jepang menggunakan kapal angkut.
Di kapal tersebut, tuna dibekukan pada suhu minus 60⁰ C dan langsung berlayar ke Jepang. “Ini yang membuat kualitas tuna terjaga dan harganya semakin tinggi,” ujar Trenggono, Rabu (24/1). Harga tuna ditentukan berdasarkan grade di pasarnya.
Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor tuna di pasar dunia.
Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tuna bersama tongkol dan cakalang termasuk sebagai komoditas unggulan ekspor hasil perikanan Indonesia dengan nilai USD 927,18 juta pada tahun 2023.
Spesies Bermigrasi
Tuna sirip biru Atlantik (Thunnus thynnus, Linnaeus 1758) salah satu spesies yang bermigrasi di lautan.
Bluefin tuna masuk dalam Daftar Merah organisasi internasional konservasi alam IUCN (International Union for Conservation of Nature). Ikan ini dalam kategori terancam punah.
Setelah 40 tahun tidak terlihat, tuna sirip biru muncul di Laut Inggris. Kemunculan tuna sirip biru yang sekian lama menghilang itu tentunya menimbulkan pertanyaan bagi sejumlah ilmuwan.
Akibat eksploitasi berlebihan, spesies ini menurun drastis di Atlantik. Terutama kurun waktu 1960-an hingga pertengahan 2000-an. Untuk memulihkan stok tuna sirip biru dilakukan langkah-langkah pengelolaan, dengan membatasi kuota penangkapan dalam jangka waktu tertentu.
Salah satu alasan kemunculan tuna sirip biru Atlantik di Inggris, menurut hasil penelitian ini, karena laut di Inggris lebih hangat.
Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya dan kemunculan kembali tuna sirip biru di perairan Eropa dapat dijelaskan melalui variabilitas hidroklimatik Atlantic Multidecadal Oscillation (AMO).
Menuju Pemulihan
Pada pertengahan tahun 1970-an, para ilmuwan mulai melihat bahwa populasi perkembangbiakan tuna sirip biru Atlantik menurun setiap tahunnya.
Meningkatnya permintaan pasar telah menyebabkan peningkatan hasil tangkapan yang signifikan, mencapai 50.000 ton per tahun pada 1990an. Spesies ini bahkan dianggap berada di ambang kepunahan, dan pada akhir abad ke-20, tindakan perlindungan diterapkan.
Komisi Internasional untuk Konservasi Tuna Atlantik atau International Commission for the Conservation of Atlantic Tunas (ICCAT) menetapkan rencana pemulihan khusus untuk spesies yang telah memberikan hasil yang sangat baik tersebut.
Langkah utama yang diambil adalah dengan mengurangi kuota penangkapan ikan secara drastis menjadi lebih dari 10.000 ton, dan juga menerapkan sistem pengendalian untuk mengurangi perburuan liar.
Langkah penting lainnya adalah melarang penangkapan ikan tuna sirip biru Atlantik di bawah usia pemijahan, sehingga meningkatkan ukuran minimum menjadi 30 kg.
Oleh karena itu, banyak tuna yang lahir di Mediterania dan dibiarkan mencari makan di daerah yang lebih produktif seperti Teluk Biscay memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan kembali ke Mediterania untuk bertelur setiap tahun.
Dalam hal teknik penangkapan ikan, penempatan gerombolan tuna dari pesawat ringan dilarang, dan berbagai batasan waktu dan ruang juga diberlakukan untuk armada tertentu, seperti kapal rawai besar berukuran lebih dari 24 m di Atlantik Timur dan Mediterania, atau purse kapal pukat di area yang sama.
Pemulihan spesies ini merupakan keberhasilan pengelolaan, meskipun iklim juga berperan penting.
Mengingat kondisi tuna sirip biru Atlantik yang sangat baik, kemungkinan untuk mengakhiri rencana khusus yang ditetapkan pada tahun 2007 telah dipertimbangkan, dan baru-baru ini rencana tersebut digantikan dengan rencana pengelolaan.
Pemulihan tuna sirip biru Atlantik adalah contoh keberhasilan pengelolaan, namun kita tidak bisa lengah.
Pengelolaan berbasis pengetahuan, yang mengintegrasikan hasil ilmiah ke dalam proses pengambilan keputusan, sangat penting untuk mengatasi tantangan konservasi dan penggunaan sumber daya berkelanjutan saat ini.
Sumber: KKP, Phys.org dan Planettuna.com
