Darilaut – Lebih dari 38 tahun, Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Muhammad Mansur, masuk keluar hutan pedalaman dan terpencil di Sulawesi hingga pegunungan Papua.
Hampir empat dekade hidupnya untuk memahami, menemukan, dan melestarikan salah satu tumbuhan unik di dunia, yaitu Kantong Semar (Nepenthes spp.).
Dedikasinya tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi benteng penting bagi konservasi keanekaragaman flora Indonesia.
“Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia adalah aset berharga yang memerlukan pengelolaan bijak dan konservasi aktif,” ujar Mansur seperti dikutip dari Brin.go.id.
Dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6), Mansur menyampaikan orasinya yang berjudul “Kantong Semar (Nepenthes spp.) di Indonesia: dari Keanekaragaman Hayati menuju Sistem Konservasi dan Pemanfaatan Berkelanjutan.”
Di balik sosok ilmuwan yang tampak bersahaja, tersimpan kisah panjang eksplorasi dan kecintaan terhadap alam. Lahir di Cianjur pada 22 Mei 1959, Mansur mengawali karier penelitiannya di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1985 dan kini melanjutkan kiprahnya sebagai Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selama lebih dari 38 tahun, Mansur menjelajahi hampir seluruh kawasan hutan Indonesia untuk meneliti ekologi tumbuhan, khususnya Nepenthes.




