Perjalanan ilmiahnya telah menghasilkan berbagai capaian penting. Salah satunya adalah penemuan tiga spesies baru Nepenthes yang memperkaya daftar flora Indonesia, yaitu Nepenthes pitopangii dari Sulawesi Tengah pada 2009, Nepenthes monticola dari Papua Barat pada 2012, dan Nepenthes diabolica pada 2020.
Temuan tersebut bukan sekadar menambah nama dalam katalog botani dunia, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman Nepenthes.
Bagi Mansur, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan tumbuhan dari kepunahan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan berkelanjutan.
Mansur menyoroti potensi Nepenthes sebagai tanaman hias bernilai ekonomi tinggi, objek wisata berbasis alam, hingga biomonitor lingkungan karena kemampuannya mengakumulasi berbagai logam berat.
Beberapa jenis bahkan memiliki kemampuan menyerap karbon yang sebanding dengan pohon-pohon pionir di hutan sekunder.
Komitmen tersebut tercermin dalam berbagai aktivitas ilmiahnya. Selain menghasilkan puluhan publikasi ilmiah dan buku, Mansur juga aktif membimbing peneliti muda, mahasiswa, serta memberikan layanan identifikasi Nepenthes bagi kalangan akademik.
Baginya, regenerasi ilmuwan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan riset dan konservasi biodiversitas Indonesia.




