“Artinya, penularan bisa terjadi di kelompok usia relatif produktif dan korban meninggal justru pada usia lanjut,” katanya.
Selanjutnya, dari sisi kelamin, kasus positifnya relatif hampir sama pada kelompok laki-laki 52,3 persen, sedang kelompok perempuan adalah 47,87 persen.
Namun, kalau dilihat dari jumlah yang meninggal jenis kelaminnya adalah laki-laki 61,26 persen, sedangkan pada perempuan 38,74 persen.
Ini menunjukkan bahwa semua pihak harus menjaga kelompok rentan terutama pada usia lanjut, dan juga pada kelompok jenis kelamin laki-laki.
“DKI Jakarta telah melampaui standar WHO dalam melakukan pengujian sehingga jumlah kasus yang tergambarkan juga cukup besar. Untuk itu, pihaknya berharap daerah-daerah lain di Indonesia harus mengikuti tren dari Jakarta yang melakukan tes yang begitu banyak dan bisa menggambarkan kondisinya lebih baik,” ujarnya.
Di Gorontalo Naik 400 Persen
Selanjutnya, Prof Wiku menyoroti kondisi penularan di wilayah Provinsi Gorontalo. Di 3 wilayah administrasi di tingkat kabupaten dan kota di Gorontalo dengan risiko tinggi dan ada 3 dengan risiko sedang.
Menurut Wiku, melihat perkembangan dari sekitar 16,6 persen untuk risiko tinggi pada Minggu tanggal 19 Juli, naik menjadi 50 persen pada Minggu 26 Juli.
Jadi, kata Wiku, ini kondisi yang perlu diperhatikan oleh masyarakat Gorontalo, khususnya di Kabupaten Boalemo, Bone Bolango dan Kota Gorontalo sebagai risiko tinggi. Risiko sedang di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara dan Pahuwato.





Komentar tentang post