Kombinasi aktivitas MJO dan gelombang atmosfer tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah dengan pemusatan massa udara dan didukung dengan kondisi atmosfer yang labil.
Di samping pengaruh MJO dan gelombang atmosfer, keberadaan sirkulasi siklonik yang diperkirakan terbentuk di Laut Andaman dan Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat Daya turut berpotensi mempengaruhi pola angin regional.
Kedua sistem tersebut dapat membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin di sekitar pusat sirkulasi.Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif, sehingga berpeluang memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.
Dengan demikian, kata BMKG, meskipun akumulasi curah hujan pada skala dasarian diperkirakan relatif masih dalam kategori rendah-menengah di sejumlah wilayah, potensi hujan signifikan dalam skala harian tetap perlu diwaspadai sebagai dampak dari interaksi dinamika atmosfer regional dan lokal.




