Tinggi gelombang signifikan maksimum mencapai 10,4 meter (34 kaki), kata JTWC.
Saat ini, menurut JTWC, Dujuan sedang melintasi bagian ujung Arus Kuroshio yang memiliki kondisi termal mendukung, sebelum beralih ke wilayah dengan suhu permukaan laut yang jauh lebih dingin.
Setelah 12 jam ke depan, kondisi termodinamika yang mendukung kelangsungan sistem akan memburuk; adveksi udara kering yang terus-menerus serta wind shear (geseran angin) destruktif yang melebihi 55 km per jam (30 knot) akan menandai dimulainya transisi ekstratropis (ETT).
Setelah bertemu dengan zona baroklinik lintang menengah yang kuat serta arus jet barat (westerly jet stream) yang kencang di lapisan atas atmosfer, Dujuan akan menyelesaikan proses ETT pada akhir periode prakiraan saat ini.
Melansir NHK, Badan Meteorologi Jepang sempat mengeluarkan Peringatan Darurat Tingkat Lima terkait tanah longsor untuk wilayah Oshima di Kepulauan Izu, Tokyo, namun kemudian mengubahnya menjadi Peringatan Mendesak Tingkat Empat.
Oshima mencatat curah hujan sebesar 832 milimeter dalam kurun waktu 48 jam hingga pukul 22.00 Senin (21/9). Angka tersebut lebih dari dua kali lipat rata-rata curah hujan untuk keseluruhan bulan September.
Kota Yokosuka di Prefektur Kanagawa melaporkan terjadinya sejumlah tanah longsor. Seorang wanita berusia 60-an tahun dilaporkan hilang setelah lumpur masuk ke dalam rumahnya.




