“Indonesia tidak boleh hanya menjadi objek penelitian, tetapi harus menjadi pemain utama dalam membangun kerja sama riset internasional,” kata Herry.
”Kita harus melihat laut bukan sebagai batas yang memisahkan, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai peradaban melalui pergerakan orang, bahasa, dan pengetahuan.”
Lokakarya internasional Doing Critical Island Studies in Southeast Asia diselenggarakan oleh PRMLTL, Arbastra BRIN bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
Forum tersebut menghadirkan pakar dari Indonesia, Filipina, Jepang, dan Korea Selatan serta menyeleksi 57 makalah dari 77 naskah yang masuk. Hasil diskusi akan diterbitkan dalam bentuk buku sebagai kontribusi ilmiah bagi pengembangan studi kepulauan di Indonesia dan Asia Tenggara.



