Menurut Sastri, perspektif tersebut kerap mengabaikan konteks sosial, budaya, dan ekologis masyarakat kepulauan.
Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Ahmad Fahrurodji, mengatakan bahwa studi kepulauan perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama penelitian, bukan sekadar objek kajian.
Pulau merupakan ruang yang menyimpan sejarah, budaya, dan dinamika sosial yang membentuk masa depan kawasan. Karena itu, penelitian kepulauan harus berangkat dari interaksi langsung dengan masyarakat untuk memahami warisan budaya dari berbagai perspektif, kata Ahmad.
“Pulau bukanlah wilayah pinggiran yang terasing; mereka adalah pusat sejarah, budaya, ekonomi, dan masa depan kita,” ujarnya.
”Istilah doing dalam lokakarya ini sangat penting karena mengingatkan kita bahwa studi ini bukan sekadar teori, melainkan praktik penelitian yang mengharuskan kita terjun langsung, berinteraksi dengan warga lokal, dan memaknai warisan budaya dari berbagai sudut pandang.”
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) BRIN, Herry Jogaswara, menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan kajian kepulauan di tingkat internasional. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki pengalaman historis dan kekayaan budaya maritim yang dapat menjadi rujukan dalam membangun kolaborasi riset global.



