“Kalau mau bicara tentang transformasi perguruan tinggi, bagaimana dia tumbuh berkembang menjadi besar, itu salah satu contoh yang paling baik adalah Airlangga,” ujar Prof. Eduart.
Menurutnya, proses transformasi yang dilakukan UNAIR menjadi pembelajaran penting bagi UNG. Pengalaman tersebut diharapkan dapat dibagikan melalui berbagai bentuk kerja sama, termasuk pengembangan program akademik, riset, publikasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia.
“Airlangga berubah dengan prosesnya sendiri. Tentu suatu hal yang tidak bisa disimpan sendiri oleh Airlangga,” kata Prof. Eduart.
Prof. Eduart mengatakan, UNG menyadari bahwa masih perlu terus belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas. Karena itu, MoU dengan UNAIR menjadi salah satu sarana dan upaya UNG untuk mewujudkan peningkatan tersebut.
“Kami tahu kami harus terus belajar untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas kami dan MoU hari ini tentu menjadi sarana dan upaya kami untuk mewujudkan itu,” ujarnya.
Ia berharap kerja sama yang dirintis melalui penandatanganan MoU tersebut dapat menjadi awal bagi UNG untuk terus tumbuh dan berkembang, termasuk melalui dukungan UNAIR dalam membangun reputasi global.
Penandatanganan MoU UNAIR dan UNG menjadi langkah awal untuk memperkuat hubungan kelembagaan dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Selain penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kerja sama tersebut mencakup peluang pengembangan joint double degree, studi fast track dari S1 ke S2, kolaborasi riset, serta program menulis sebagai bagian dari komitmen dan dukungan UNAIR melalui skema CSR untuk membantu UNG meningkatkan kapasitas akademik dan membangun reputasi global.




