Darilaut – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI membahas dampak program revolusi mental di Gorontalo, pada Selasa (29/10).
Kegiatan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) diikuti perwakilan pemerintah, tokoh agama, akademisi, media dan mahasiswa.
Peserta FGD tersebut masing-masing: Erwinsyah Ismail (Komisi Perencanaan, Pembangunan dan Keuangan DPRD Provinsi Gorontalo), KH dr Burhanudin Umar (Rais Syuriyah PWNU Provinsi Gorontalo), Zakiya Baserewan (Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik pada Dinas Kominfo dan Statistik Provinsi Gorontalo), Dr Zulkifli Tanipu (akademisi UNG), Novi Rusnarty Usu MA (akademisi UNG), Verrianto Madjowa (darilaut.id/Ketua AMSI Gorontalo), perwakilan Kejaksaan Tinggi Gorontalo dan mahasiswa.
Akademisi Unesa yang memfasilitasi FGD, Silkania Swarizona MIP, mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga menghadapi berbagai masalah di bidang sosial, ekonomi, hukum, politik, serta pertahanan dan keamanan.
Karakter dan mentalitas warga negara, ditambah dengan birokrasi yang lamban dan maraknya korupsi, adalah masalah utama yang menghambat kemajuan negara, kata Silkania.
“Revolusi Mental diharapkan mampu memperbaiki mentalitas bangsa agar lebih adaptif dan siap bersaing di era digital,” ujarnya.
Revolusi Mental adalah gerakan nasional yang dicetuskan oleh pemerintah pada tahun 2014. Tujuannya, mengubah cara pandang, sikap, dan perilaku masyarakat Indonesia agar lebih positif, produktif, dan berintegritas.
Gerakan ini diharapkan bisa menjadi fondasi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.
Sebagai negara yang beragam, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun karakter bangsa yang kuat.
“Revolusi Mental diharapkan bisa menyatukan semua elemen bangsa untuk menghadapi tantangan globalisasi, teknologi, dan perubahan sosial yang terus berkembang,” kata Jauhar Wahyuni MIKom dari Unesa.
Untuk itu, kata Jauhar, penelitian mengenai dampak revolusi mental pada kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting.
Terdapat lima program utama yang menjadi fokus Gerakan Revolusi Mental, pertama, Gerakan Indonesia Melayani: Meningkatkan pelayanan publik agar lebih berintegritas dan melindungi kepentingan masyarakat.
Kedua, Gerakan Indonesia Bersih: Mendorong masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, baik secara fisik maupun mental.
Ketiga, Gerakan Indonesia Tertib: Menegakkan ketertiban di ruang publik sesuai asas ketertiban umum.
Keempat, Gerakan Indonesia Mandiri: Mendorong kemandirian di bidang pangan, energi, dan teknologi dengan kerja keras dan inovasi. Kelima, Gerakan Indonesia Bersatu: Memperkuat persatuan bangsa dengan semangat gotong royong dan saling menghargai.
Adapun tujuan FGD tersebut untuk mengidentifikasi dan memahami dampak program Gerakan Nasional Revolusi Mental pada berbagai unsur masyarakat yang terlibat.
Mengeksplorasi tantangan, keberhasilan, dan rekomendasi dari perspektif pemangku kepentingan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media (Pentahelix).
Tujuan lainnya, untuk mendapatkan wawasan terkait persepsi dan pengalaman para pemangku kepentingan tentang efektivitas program.
FGD “Dampak Revolusi Mental Terhadap Perubahan Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara” pertama kali dilakukan Unesa di Gorontalo. Selanjutnya, FGD yang sama akan berlangsung di sejumlah kota di Indonesia.
