Tingkat risiko yang dihadapi setiap negara di kawasan ini akan sangat bervariasi. Fiji, Vanuatu, Kepulauan Solomon, Timor-Leste, Papua Nugini, dan Filipina termasuk negara-negara yang diperkirakan akan mengalami kondisi lebih kering akibat El Niño.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kekeringan di sektor pertanian dan kelangkaan air, sekaligus meningkatkan risiko pengungsian dan malnutrisi akut. Sementara itu, negara lain seperti Sri Lanka diperkirakan akan mengalami curah hujan di atas rata-rata.
Di negara-negara yang terdampak krisis dan konflik, seperti Afghanistan, El Niño dapat memperburuk kondisi kelaparan, malnutrisi, pengungsian, serta keterbatasan akses terhadap layanan dasar yang sudah terjadi.
El Niño juga terjadi ketika anak-anak dan keluarga di seluruh Asia dan Pasifik masih menghadapi bencana iklim yang berulang serta tekanan ekonomi yang semakin meningkat akibat krisis di Timur Tengah. Di negara-negara seperti Nepal dan Pakistan, banjir, badai, dan suhu panas ekstrem telah memaksa keluarga mengungsi, merusak infrastruktur, mengganggu kegiatan pertanian dan mata pencaharian, serta semakin membebani layanan dasar.
Pada saat yang sama, kenaikan harga pangan dan biaya hidup, serta gangguan pada pasar lokal, semakin menekan anggaran rumah tangga. Akibatnya, keluarga rentan memiliki semakin sedikit sumber daya untuk menghadapi krisis berikutnya.



