Darilaut – Kosmos 482 yang akan jatuh ke Bumi diperkirakan pada tanggal 10 Mei 2025 bagian dari program eksplorasi Planet Venus Uni Soviet (sekrang Rusia) yang dikenal dengan nama Venera. Ini adalah komponen Kosmos 482 yang tersisa berupa modul pendarat berbobot 0,5 ton.
Sebelumnya, 44 tahun lalu, bagian lain wahana tersebut jatuh pada Mei 1981. Sampah antariksa tersebut jatuh di Gorontalo.
Secara total, wahana ini memiliki berat sekitar 1,2 ton. Wahana tersebut awalnya dirancang untuk misi pendaratan di Planet Venus.
Namun gagal menuju orbit Venus akibat malfungsi tahap akhir peluncuran. Wahana pendarat tersebut kemudian menjadi sampah di orbit bumi selama 53 tahun
Pada awalnya wahana ini pecah menjadi empat bagian. Dua bagian kecil segera jatuh pada 1972.
Bagian ketiga yang paling besar berbobot sekitar 0,7 ton jatuh pada Mei 1981. Komponen yang tersisa yang saat ini diperkirakan akan jatuh ke Bumi adalah modul pendarat berbobot 0,5 ton.
Modul berbentuk bola berdiameter sekitar 1 meter tersebut dirancang sangat kuat untuk menembus atmosfer Venus sehingga diprakirakan tetap utuh saat jatuh.
Efek pemanasan oleh atmosfer bumi akan menyebabkan objek jatuh seperti meteor besar, tampak seperti bola api yang meluncur cepat.
Saat ini, orbit Kosmos 482 terus menurun ketinggiannya karena hambatan atmosfer. Dari ketinggian awal hampir 10.000 km kini berada pada ketinggian sekitar 200 km. Objek tersebut akan jatuh dalam waktu beberapa menit ketika ketinggiannya mencapai sekitar 120 km.
Modul berbentuk bola berdiameter sekitar 1 meter tersebut dirancang sangat kuat untuk menembus atmosfer Venus sehingga diprakirakan tetap utuh saat jatuh. Efek pemanasan oleh atmosfer bumi akan menyebabkan objek jatuh seperti meteor besar, tampak seperti bola api yang meluncur cepat.
Kosmos 482 sendiri merupakan bagian dari program eksplorasi Planet Venus Uni Soviet yang dikenal dengan nama Venera.
Peneliti Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa sebagai negara di wilayah ekuator dengan wilayah yang sangat luas, Indonesia memiliki potensi kejatuhan Kosmos 482. Namun karena ketidakpastian faktor hambatan atmosfer, lokasi dan waktu jatuhnya masih sulit dipastikan.
Pusat Riset Antariksa BRIN terus melakukan pemantauan secara intensif lintasan orbitnya menjelang ketinggian kritis 120 km. Pemantauan ini penting untuk menentukan wilayah paling potensial kejatuhan sampah antariksa dengan melihat lintasan akhir orbitnya.
Fenomena Kosmos 482 menjadi pengingat akan pentingnya pemantauan terhadap benda-benda antariksa yang tidak lagi aktif, yang dapat menjadi risiko bagi keselamatan publik.
Selain itu, kasus ini memperlihatkan betapa pentingnya kerja sama internasional dalam pengelolaan sampah antariksa dan pengembangan sistem pelacakan sampah antariksa.
