Darilaut – Proses spesiasi pada ikan karang terdiri dari tiga model. Pertama, secara alopatrik (isolasi menyeluruh), parapatrik (isolasi sebagian) dan simpatrik (tumpang tindih).
Simpatrik dikenal dengan spesiasi tanpa isolasi geografis. Spesiasi antar populasi menunjukan migrasi bebas atau tidak adanya batasan wilayah.
Mekanisme ini cukup langka karena hanya dengan aliran gen yang sedikit akan menghilangkan perbedaan genetika antara satu bagian populasi dengan bagian populasi lainnya.
Spesiasi simpatrik adalah unik karena terjadi hanya sementara antara dua subpopulasi dari spesies yang sama dan menempati wilayah yang sama atau berbagi wilayah sehingga tumpang tindih (overlapping).
Meskipun area di mana organisme hidup adalah sama, mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok berbeda secara genetis, sehingga tidak lagi dapat saling bereproduksi. Walaupun spesiasi jenis ini masih diperdebatkan dalam menjelaskan biodiversitas pembentukan spesies ikan yang baru, beberapa penelitian mendukung adanya teori ini.
Penelitian yang dilakukan Jones et al., (2003) mengenai seleksi reproduksi berdasarkan ukuran tubuh yang menjelaskan spesiasi dari dua jenis sister spesies dari kuda laut (genus Hippocampus) yang berdistribusi tumpang tindih di wilayah Atlantis Barat dan Pasifik Barat.
Penelitian menunjukkan bahwa betina lebih memilih untuk kawin dengan jantan yang memiliki tubuh dengan ukuran yang sama. Hal ini menghasilan distribusi fenotip bimodal berdasarkan ukuran tubuh yang dapat mengarahkan terjadinya spesiasi simpatri pada populasi.
Penelitian lain yang mendukung teori spesiasi simpatrik juga ditemukan pada triplefins (family Tripeterygiidae) di New Zealand.
Wellenreuther et al., (2007) mempelajari mengenai distribusi ekologis dan geografis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa banyak sister spesies yang hidup dalam wilayah geografis yang sama, namun berbeda habitatnya.
Sister spesies ditemukan di lokasi sama, namun tidak pernah dalam kedalaman atau derajat paparan gelombang yang sama.
Selain faktor yang diakibatkan oleh seleksi reproduktif, terdapat beberapa contoh penemuan yang mendukung spesiasi simpatrik dengan faktor adaptasi yaitu pada genus Hypoplectrus.
Terdapat sekitar 10 spesies dari genus Hypoplectrus yang tumpang tindih dalam distribusinya dan secara bentuk morfometrik dan meristik identik, namun satu-satunya karakter yang membedakan adalah warna.
Diversitas warna pada Hypoplectrus diakibatkan oleh tekanan seleksi di habitat yang menyebabkan terjadinya adaptasi untuk menyesuaikan warna tubuh menyerupai spesies yang tidak mengancam dalam menarik mangsa.
Selanjutnya terjadinya juga seleksi kawin di mana Hypoplectrus lebih memilih kawin dengan yang memiliki warna yang sama.
Hal yang mirip juga terjadi pada Parachirrhites arcatus di wilayah Indo-Pasifik yang yang memiliki warna yang berbeda karena jenis adaptasi pada mikro-habitat yang berbeda (kedalaman) pada habitat yang sama.
Apabila perbedaan pada warna mempengaruhi seleksi kawin, maka proses spesiasi simpatrik akan terjadi.
Kasus pada Hypoplectrus dan Parachirrhites arcatus menunjukkan bahwa terdapat peran adaptasi pada proses spesiasi simpatrik, hal ini didukung oleh Rolán-Alvarez (2007) yang mengemukakan bahwa spesiasi merupakan by-product dari adaptasi ekologi.
Contoh beberapa bukti genetik juga menunjukan terjadinya spesiasi simpatrik adalah pada genus Centropyge. Spesiasi simpatrik yang terdapat pada genus Centropyge dibuktikan pada warna morfologi tubuh namun perbedaan tersebut tidak didukung oleh penanda genetik.
Yang menjadi pembeda pada level genetiknya adalah berdasarkan wilayah geografis, di mana ikan yang warnanya berbeda memiliki kekerabatan yang lebih dekat jika dibandingkan dengan yang warnanya sama pada wilayah yang berbeda.
Beberapa contoh spesies yang termasuk dalam sister spesies namun mempunyai warna morfologis yang berbeda dan tumpang tindih (overlapping) pada habitat yang sama dapat diamati pada Gambar.
Beberapa teori terbaru terkait dengan spesiasi simpatrik adalah kecenderungan terjadinya hibridisasi.
Contoh spesiasi simpatrik pada Hypoplectrus menunjukkan adanya spesiasi yang sedang berlangsung (ongoing speciation) dan hibridisasi (kawin silang).
Fenomena ongoing speciation dan hibridisasi pada jenis spesiasi simpatrik diperjelas oleh Abbott et al., (2013) dan Harrison et al., (2017). Penelitian terhadap genus Plectopomodus di habitat terumbu karang.
Peneliti menjelaskan bahwa hibridisasi lebih mungkin terjadi pada spesies dengan kekerabatan yang dekat dalam kondisi habitat yang tumpang tindih pada spesies simpatrik.
Tetapi teori tersebut sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli. Hal ini karena untuk dapat masuk dalam kategori ongoing speciation spesies hasil hibridisasi harus mampu menghasilkan individu baru yang reproduktif.
Penelitian lainnya, individu hasil hibridisasi tidak lagi bersifat reproduktif karena isolasi reproduksi yang diakibatkan inkompa-tibilitas/ ketidakcocokan genetis.
Sumber:
Fione Yukita Yalindua, jurnal Oseana, Volume 46, Nomor 1 Tahun 2021 dengan judul “Spesiasi dan Biogeografi Ikan di Kawasan Segitiga Terumbu Karang.”
