33 Tahun Lalu Sampah Sandal Jepit Sudah Mendominasi Pesisir

Kepulauan Seribu

Sandal jepit ditemukan dalam perut paus sperma yang mati terdampar pada Minggu (18/11) lalu di pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. FOTO: FACEBOOK/ALFI/AKKP

BERBAGAI jenis sampah, seperti sandal jepit, kantong plastik dan gelas plastik ditemukan dalam perut paus sperma (sperm whales).

Paus sperma (Physeter macrocephalus) ini mati terdampar pada Minggu (18/11) lalu di pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Total berat basah sampah ini 5,9 kilogram.

Sandal jepit dan aneka sampah plastik bukan hal baru. 33 tahun lalu, hasil pengamatan yang telah dilakukan Lembaga Oseanologi Nasional (LON) LIPI – kini Pusat Penelitian Oseanografi (P2O-LIPI) — menemukan sejumlah sampah anorganik, seperti sandal jepit mendominasi pesisir dan laut.

Penelitian Muhammad Abrar dan Ricoh Manogar Siringoringo menemukan dalam tiga periode penelitian (1985, 1995 dan 2005) kategori sampah kantong plastik, busa plastik putih dan sandal jepit mendominasi di lokasi penelitian di Kepulauan Seribu.

Penelitian sampah anorganik di Kepulauan Seribu pada September 2005 oleh Muhammad Abrar dan Ricoh Manogar Siringoringo.

Meski proporsi kantong plastik, busa plastik putih dan sandal jepit ini berbeda, namun mendominasi pada hasil temuan penelitian di Kepulauan Seribu.

Sebagian besar pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu berada di Teluk Jakarta, pesisir utara Banten dan Jawa Barat. Dari penelitian periode ketiga, 2005, jumlah terbanyak adalah kantong plastik (53,4 persen). Kemudian busa plastik putih, sandal jepit, cangkir dan jaring ikan. Jumlah total temuan 11.501 potong.

Penelitian 2005, kantong plastik terbanyak di Pulau Pari, yakni sebanyak 790. Busa plastik putih sebanyak 140 dan sandal 78 di Pulau Lancang Besar. Selain itu, terdapat botol aqua dan botol plastik lainnya.

Pulau Pari pada penelitian 2005, tertinggi kategori sampah. Pada 1995, Pulau Pari berada di urutan ke 12.*

 

Exit mobile version