Darilaut – Indonesia memiliki sekitar 4.000 spesies anggrek, menjadikannya salah satu negara dengan keragaman anggrek tertinggi di dunia.
Sebagian besar di antaranya bersifat endemik dan memiliki potensi besar untuk pengembangan obat, kosmetik, tanaman hias, hingga bahan aromatik.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Destario Metusala, menjelaskan temuan tiga spesies anggrek baru, termasuk anggrek unik dari Aceh bernama Chiloschista tjiasmantoi.
Anggrek tersebut dikenal sebagai “anggrek akar” karena hampir tidak memiliki daun dan melakukan fotosintesis melalui akarnya.
“Fotosintesisnya lebih dominan dilakukan oleh akar yang mengandung klorofil,” kata Rio yang juga peneliti anggrek BRIN, dalam Talkshow para taksonom BRIN bertajuk “Exposing New Plant Species & Flora Expedition”, yang diselenggarakan di auditorium Gd. BJ. Habibie, Jakarta, Senin (25/5).
Rio menilai ancaman terhadap anggrek juga sangat serius, mulai dari kehilangan habitat akibat alih fungsi lahan hingga pemanenan berlebih dari alam untuk kebutuhan kolektor dan industri obat.
“Sebagian besar bahan baku obat masih diambil langsung dari alam. Karena itu, budidaya dan penangkaran menjadi solusi penting untuk menjaga keberlanjutannya,” ujarnya seperti dikutip dari Brin.go.id.



