Darilaut – Guru besar Wako University, Jepang, Prof. Toshiya Ueno mengatakan selama ini dunia lebih banyak dibangun melalui cara berpikir kontinental yang melihat ruang sebagai sesuatu yang harus disatukan, dikuasai, dan diatur secara total.
Menurut Prof. Toshiya cara berpikir tersebut menjadi salah satu akar berbagai krisis, baik ekologis maupun sosial.
“Cara manusia memandang dunia selama ini cenderung kaku, seperti melihat daratan besar yang harus dikuasai, dikelola secara terpusat, dan dieksploitasi demi kemajuan ekonomi,” kata Prof. Toshiya dalam lokakarya internasional Doing Critical Island Studies in Southeast Asia yang diselenggarakan Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL), Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, di Jakarta, Senin (13/7).
Prof. Toshiya yang membawakan materi dengan judul “Archipelagic Thinking and Planetary Ecophilosophy” menawarkan perubahan yang lebih mendasar, yakni mengubah cara manusia memandang dunia. Ia memperkenalkan konsep Archipelagic Thinking atau pola pikir kepulauan.
Untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim dan sosial yang kian parah, menurut Prof. Toshiya, kita butuh “pola pikir kepulauan” yang melihat dunia bukan sebagai satu blok besar, melainkan sebagai jaringan hubungan yang saling memberi dan menghargai perbedaan.




