Darilaut – Pulau Kalimantan memiliki lahan gambut yang cukup luas dan kandungan batu bara melimpah. Sejatinya, ”potensi lahan gambut tropis dengan luas 5,4 juta hektar di Pulau Kalimantan sangat penting untuk penyimpanan karbon dan menyediakan beragam jasa ekosistem, termasuk habitat bagi keanekaragaman hayati, pengaturan air, dan pengendalian polusi,” menurut Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).
Lahan gambut dijabarkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai tanah lunak dan basah, terdiri atas lumut dan bahan tanaman lain yang membusuk — biasanya terbentuk di daerah rawa atau di danau yang dangkal, sedangkan batu bara adalah arang yang diambil dari dalam tanah, berasal dari tumbuhan darat, tumbuhan air, dan sebagainya yang telah menjadi batu.
Ekosistem lahan gambut dan batu bara rentan terbakar. Apalagi di musim kemarau berkepanjangan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, mengatakan, hujan merupakan cara paling efektif untuk memadamkan api, terutama pada lahan gambut yang menjadi karakteristik utama kebakaran di Kalimantan Barat.
Karakter lahan gambut berbeda dengan lahan biasa. Api di lahan gambut bisa terus menyala di bawah permukaan meski bagian atasnya sudah dipadamkan. Karena itu perlu penyiraman terus menerus, dan hujan adalah cara paling efektif.




