Adam Voiland dalam tulisan yang diterbitkan Science.nasa.gov, menyebutkan, sebuah perkiraan, kebakaran lahan gambut menghasilkan partikulat halus tiga kali lebih banyak dibandingkan kebakaran hutan tropis lainnya, serta lima kali lebih banyak sulfur dioksida, tiga kali lebih banyak karbon organik, dan dua kali lebih banyak metana serta karbon monoksida.
Kebakaran ini—yang terjadi pada tanah lahan basah yang mengering—berlangsung lambat, sangat mencemari udara, dan terkenal sulit dipadamkan karena bara apinya membara pada suhu rendah dan sering kali merambat di bawah permukaan tanah melalui hamparan gambut yang luas.
Itu sebabnya, kebakaran hutan dan lahan berkepanjangan karena kekeringan dan kemarau di Kalimantan menghasilkan asap melintas batas hingga Malaysia dan Filipina.
Copernicus, komponen Pengamatan Bumi dalam program antariksa Uni Eropa bertujuan memantau lingkungan, menampilkan sebaran asap Pulau Kalimantan.
Visualisasi didasarkan pada data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) dan dibuat menggunakan aplikasi Fire Emissions Watch yang baru saja diluncurkan. Melalui visualisasi ini memperlihatkan sebaran asap di wilayah Indonesia, Malaysia, dan sekitarnya pada tanggal 25 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa sebaran asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut hingga melewati batas administratif ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia




