Darilaut – Longsoran batuan dan es yang sangat dahsyat—kemudian berubah menjadi banjir debris—di pegunungan Himalaya sepanjang perbatasan Nepal-Cina pada 26 Agustus 2026 telah menyebabkan kerusakan luas di seluruh Nepal dan wilayah sekitarnya.
World Weather Attribution (WWA) telah melakukan analisis bencana geologis Himalaya yang menghantam Nepal. Saat laporan tersebut ditulis (14 September 2026), bencana tersebut telah mengakibatkan lebih dari 1.300 kematian terkonfirmasi, dengan hanya sebagian kecil korban yang telah diidentifikasi dan dipulangkan kepada keluarga mereka.
Lebih dari 5.000 orang masih dinyatakan hilang, sekitar 13.700 orang telah diselamatkan, dan lebih dari 8.600 orang telah menerima perawatan medis (NDRRMA, 2026e).
Sebanyak 3.400 orang saat ini berlindung di pusat-pusat penampungan sementara (NDRRMA, 2026a) dan diperkirakan 84.270 orang di 17 wilayah tingkat lokal yang tersebar di enam distrik—yaitu Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Gorkha, Chitwan, dan Tanahu—terdampak. Pemerintah pun telah menetapkan 15 wilayah administratif sebagai daerah krisis bencana selama tiga bulan (UNDP, 2026a; MOHA, 2026).
Meskipun laporan awal mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut mungkin disebabkan oleh gempa bumi, bukti-bukti selanjutnya menunjukkan bahwa aktivitas seismik yang tercatat sebenarnya berkaitan dengan runtuhnya dinding batuan dan es gletser seluas kurang lebih 2 kilometer persegi secara cepat (US Geological Survey Earthquake Hazards Program, 26 Agustus 2026; Center for Hydrology and Water Resources Research, 2026).




