Rabu, Oktober 7, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Masalah Kebakaran Lahan Gambut Soal Hidrologi, Api Dampak Lanjutan

redaksi
7 Oktober 2026
Kategori : Berita
0
Kebakaran Hutan dan Lahan Berkepanjangan di Seluruh Indonesia, Tercatat 50 Ribu Kasus Saluran Pernapasan

Titik api di Sebagian wilayah Kalimantan Barat. GAMBAR: European Union, Copernicus Sentinel-2 imagery

Darilaut – Karakteristik lahan gambut perlu dipahami agar penanganan kebakaran tidak disamakan dengan tanah mineral. Gambut terbentuk dalam kondisi rawa yang minim oksigen sehingga proses dekomposisi bahan organik tidak berlangsung sempurna.

Proses tersebut menghasilkan lapisan organik tebal yang kaya karbon sekaligus memiliki kemampuan besar dalam menyimpan air.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dony Rachmanadi, mengatakan, sebetulnya kebakaran gambut itu masalahnya pada hidrologi. Masalah api merupakan dampak lanjutannya.

”Kalau kita mau menyelesaikan kebakaran, kita harus bisa menyelesaikan masalah hidrologinya,” ujar Dony dalam Media Lounge Discussion di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (6/10).

Kebakaran lahan gambut tidak dapat diselesaikan hanya dengan memadamkan api. Perubahan kondisi hidrologi yang membuat gambut kehilangan air menjadi persoalan utama yang perlu ditangani untuk mencegah kebakaran berulang sekaligus mempertahankan fungsi ekologisnya.

Dony menjelaskan gambut pada dasarnya merupakan ekosistem lahan basah yang terbentuk dari akumulasi sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Dalam kondisi alami, gambut jenuh air dan mampu menyimpan air hingga sekitar 13 kali bobotnya.

Namun, kondisi tersebut berubah ketika gambut dikeringkan untuk berbagai kepentingan. Pembuatan kanal dan pengeluaran air dari kawasan gambut menyebabkan bahan organik yang sebelumnya basah menjadi kering dan mudah terbakar.

Halaman 1 dari 3
123Selanjutnya
Tags: BRINDony RachmanadiKebakaran Hutan dan LahanLahan Gambut
BagikanTweetKirimKirim
Previous Post

Mahasiswa KKN UNG Perkenalkan Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

Next Post

Api di Lahan Gambut Bisa Padam Apabila Terendam Air

Postingan Terkait

53 Titik Api di 9 Wilayah Terdeteksi di Kalimantan Selatan

Api di Lahan Gambut Bisa Padam Apabila Terendam Air

7 Oktober 2026
Mahasiswa KKN UNG Perkenalkan Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

Mahasiswa KKN UNG Perkenalkan Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

7 Oktober 2026

Tiga Topan di Samudra Pasifik Barat

Atmosfer Kering, El Niño Sangat Kuat dan IOD Positif Kurangi Pasokan Uap Air

Kondisi Kering Mendominasi Wilayah Indonesia di Awal Oktober

Kebakaran Hutan: Asap Mengubah Bencana Lokal Menjadi Polusi Udara Berskala Benua

Copernicus Atmosphere Tampilkan Konsentrasi Harian PM2.5 di Indonesia dan Benua Maritim

Jejak Sampah Dari Sungai ke Laut

Next Post
53 Titik Api di 9 Wilayah Terdeteksi di Kalimantan Selatan

Api di Lahan Gambut Bisa Padam Apabila Terendam Air

TERBARU

Api di Lahan Gambut Bisa Padam Apabila Terendam Air

Masalah Kebakaran Lahan Gambut Soal Hidrologi, Api Dampak Lanjutan

Mahasiswa KKN UNG Perkenalkan Teknologi Pirolisis untuk Olah Sampah Plastik

Tiga Topan di Samudra Pasifik Barat

Atmosfer Kering, El Niño Sangat Kuat dan IOD Positif Kurangi Pasokan Uap Air

Kondisi Kering Mendominasi Wilayah Indonesia di Awal Oktober

AmsiNews

REKOMENDASI

Nike, Ikan Kerinduan Orang Gorontalo

Dentuman di Langit Cirebon Akibat Meteor Besar Masuk Atmosfer

Pembukaan Destinasi Wisata Harus Diikuti Protokol Kesehatan Ketat

Kasus Malaria di Indonesia Terbesar ke 2 di Asia

Wapres Jusuf Kalla: Indonesia Canangkan 20 Juta Hektare Kawasan Perlindungan Laut

KKN Kolaboratif UNG – UGM Angkat Potensi Lokal

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.