Darilaut – Hilangnya keanekaragaman hayati terus mengacaukan kehidupan miliaran orang. Sekretaris Eksekutif Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB, Astrid Schomaker, mengatakan, pada tahun 2022 sebanyal 196 negara telah membuat komitmen. Namun, kita semua bertanggung jawab satu sama lain dan kepada generasi mendatang.
”Apa yang terjadi di Yerevan ini sangatlah penting. Miliaran orang yang kehidupannya terganggu akibat hilangnya keanekaragaman hayati sangat bergantung pada kemajuan yang dicapai di sini selama dua minggu ke depan,” ujar Schomaker.
Tujuan dari perundingan di ibu kota Armenia ini adalah untuk mengevaluasi kemajuan yang telah dicapai sejauh ini serta menindaklanjuti cetak biru perlindungan keanekaragaman hayati yang telah disepakati, yaitu Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, yang diadopsi empat tahun lalu.
Gagasan Masyarakat Adat
“Bertindak demi alam benar-benar membuahkan hasil”, Schomaker menyerukan agar “energi dan gagasan yang belum tergali” dari masyarakat adat, komunitas lokal, perempuan, dan kaum muda dapat berkontribusi dalam pengambilan keputusan selama perundingan berlangsung.
“Kita membutuhkan keterlibatan yang lebih luas dari berbagai kota, sektor bisnis, dan lembaga keuangan… bukti ilmiahnya sudah jelas. Tidak ada satu pun negara, perekonomian, atau masyarakat yang kebal terhadap dampak hilangnya keanekaragaman hayati,” ujarnya.



