13 Proses Ina-CBT, Teknologi Deteksi Tsunami Berbasis Sensor

Pada 6 Mei 2021 InaBuoy yang dipasang di Selatan Bali tidak terdeteksi oleh sistem penerima data yang ada di BPPT dan dinyatakan hilang. FOTO: BPPT

Darilaut – Teknologi untuk mendeteksi tsunami berbasiskan sensor di dasar laut dalam atau Indonesia Cable-Based Tsunameter (Ina-CBT) terhubung dengan landing-station di pantai melalui kabel fiber-optik.

Terdapat 13 proses yang harus dilalui untuk membangun Ina-CBT. Pertama, desktop study menetapkan posisi penempatan sensor. Kemudian melakukan kajian biologi, hidrologi, oseanografi, dan klimatologi. Termasuk didalamnya kajian kebiasaan nelayan yang ada di daerah tersebut.

Dalam sistem Ina-CBT, jaring nelayan dan jangkar kapal yang bisa merusak kabel di dasar laut.

Setelah desktop study kemudian dilanjutkan dengan melakukan survei untuk mengetahui kondisi dasar laut, topologi dari dasar laut, dan sedimen dasar laut.

Kemudian melakukan engineering design, integrasi komponen, pengujian sistem, dan lain-lain sampai akhirnya melakukan pekerjaan penggelaran itu sendiri.

Ocean Bottom Unit (OBU) mempunyai berbagai sensor. Sensor tekanan air laut, sensor temperatur OBU dengan berat kurang lebih satu ton dapat menambah beban kabel pada saat penggelaran.

Untuk itu, dilakukan pengujian kabel yang akan digunakan untuk melihat apakah dia cukup kuat sehingga tidak putus untuk digunakan di dalam penggelaran.

Tahap-tahap pengujian fungsional, pengujian elektronika dan pengujian temperatur telah dilakukan untuk melakukan pemasangan sensor ini.

Landing Station

Landing station adalah sebuah bangunan yang didirikan di pantai sebagai tempat untuk mengolah data yang dikirimkan oleh sensor Ina-CBT dan harus dikirimkan ke Jakarta ke data center.

Pengiriman data menggunakan tiga moda yaitu menggunakan satelit kemudian menggunakan GSM dan menggunakan komunikasi fiber optik jika sudah ada di tempat tersebut.

Jalur kabel dari kabel yang sudah didesain lokasinya harus dikonfirmasi ulang karena kadang-kadang ada kabel-kabel lain yang digelar lebih dulu. Jika diperlukan harus mengubah jalur kabel untuk menghindari adanya tabrakan yang antara kabel di dasar laut.

Jalur fiber optik juga bisa digunakan untuk kepentingan telekomunikasi. Hal ini menjadi salah satu potensi untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan operator telekomunikasi.

Tetapi ada beberapa tantangan yaitu operator telekomunikasi ingin sistem yang sangat reliable minimum lifetime 20 tahun dan harus menghubungkan dua titik di darat yang berbeda. Maka butuh dua landing station atau multiple landing station.

Kepala Pusat Riset Elektronika – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusuf Nur Wijayanto, mengatakan, pengembangan riset Ina-CBT ini merupakan hal yang sangat penting bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang sarat akan patahan.

Pemanfaatan kabel fiber optik yang ada di Indonesia tidak hanya untuk kepentingan komunikasi tapi bisa untuk sensing salah satunya mendeteksi tsunami. Bahkan bisa memberikan informasi mengenai lingkungan di bawah laut.

Menurut Yusuf riset ini bertujuan untuk memanfaatkan kabel fiber optik yang sudah ada atau existing dengan memberikan fitur tambahan tidak hanya komunikasi. Tetapi untuk mendeteksi hal-hal yang terjadi di bawah laut termasuk gempa, pergerakan ikan, aliran air laut, dan lain-lain yang penting untuk diolah lebih lanjut dalam pengambilan keputusan dan kebijakan pemerintah.

Riset ini merupakan sebuah kebaruan, bahkan menjadi hal pertama di Indonesia. Desain Ina-CBT merupakan riset pengembangan alat sensor dengan didesain oleh periset Indonesia dapat diimplementasikan di laut dalam. Hal ini merupakan inovasi yang pertama di Indonesia.

Yusuf mengatakan menjadi inovasi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, maka riset ini dapat mengarah pada pembuatan kepemilikan hak kekayaan intelektual (HKI) baik secara nasional dan global.

Selanjutnya dapat dilisensikan dan dikomersialisasikan teknologinya ke mitra sehingga dapat memberikan manfaat secara khusus untuk Indonesia sebagai negara kepulauan di ekuator dan di antara patahan aktif dan bahkan untuk negara-negara lainnya di dunia.

Perlunya sinergitas yang dibangun oleh berbagai stakeholder (kementerian/ lembaga/ Industri) di Indonesia secara nasional untuk dapat mendukung pengembangan riset ini karena data/informasi yang didapat dari sistem monitoring bawah laut berbasis fiber optik dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

Exit mobile version