Tuna sirip biru itu hasil tangkapan nelayan di kapal ikan Cahaya Bilqis.

Titik lokasi penangkapan ikan berada di Laut Maluku atau di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 715.
Ketika Tuna Sirip Biru ini memakan umpan yang ada di pancing, ”ada dua nelayan yang mengangkat ikan ini selama satu jam lebih ke kapal,” kata Arifin (43 tahun) Kapten kapal ikan Cahaya Bilqis, kepada Darilaut.id.
Kapal ikan Cahaya Bilqis memiliki panjang 24 meter, namun ramping dengan lebar hanya 2,2 meter.

Hari itu, Jumat 20 Februari lepas jam 13.00 siang. Cahaya Bilqis memilih lokasi penangkapan di Laut Maluku.
Tak lama, pancing dengan umpan ikan cakalang panjang 25 cm itu dimakan ikan pelagis besar.
Tuna sirip biru itu dengan berat total 230 kg berhasil ditangkap. Setelah dilakukan pembersihan isi perut, bagian ekor dan insang beratnya 196 kg.
Bintang nama nelayan Cahaya Bilqis, melepas senar nilon nomor 120. Persediaan senar nilon ini dengan panjang 1000 meter.
Nelayan Boalemo
Selang beberapa hari kemudian, di bulan Februari nelayan di Kabupaten Boalemo mendaratkan ikan tuna berukuran lebih dari 150 kg.
Nelayan menggunakan pancing ulur untuk menangkap ikan tuna berukuran besar tersebut.

Nelayan Bongo
Pada Kamis 12 Maret 2026, nelayan Gorontalo mendaratkan tuna berukuran besar. Tuna sirip biru ini dengan panjang 2,1 meter (210 cm), berat bersih 136 kilo gram (tanpa isi lambung seperti usus dan insang) serta berat kotor lebih dari 160 kg.




