Tuberkulosis memang masih menjadi tantangan kesehatan global. Namun, dengan kombinasi antara pengobatan yang tepat, edukasi kesehatan yang efektif, serta dukungan masyarakat yang kuat, penyakit ini sebenarnya dapat dikendalikan. Menghapus stigma dan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat adalah langkah penting menuju masyarakat yang lebih sehat dan peduli terhadap sesama, kata peneliti.
Penelitian ini telah dipublikasi di Jambura Nursing Journal, Vol. 8, No. 1, January 2026. Penelitian di Kabupaten Gorontalo memberikan gambaran menarik mengenai tingkat pengetahuan masyarakat tentang tuberkulosis paru.
Penelitian tersebut melibatkan 50 responden dari berbagai kelompok usia dan latar belakang pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38% responden memiliki pengetahuan yang baik tentang TBC, 54% berada pada kategori cukup, dan 8% masih memiliki pengetahuan yang kurang.
Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya sudah memiliki pemahaman dasar mengenai TBC.
Mereka mengetahui bahwa TBC merupakan penyakit infeksi yang dapat diobati dan memerlukan kepatuhan dalam menjalani terapi. Namun demikian, pengetahuan yang dimiliki masyarakat belum sepenuhnya komprehensif.
Masih ditemukan berbagai miskonsepsi yang berkembang di masyarakat. Salah satu contoh yang sering muncul adalah anggapan bahwa TBC dapat menular melalui penggunaan alat makan bersama. Selain itu, sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa penderita TBC sebaiknya dijauhi atau dibatasi interaksi sosialnya.




