Pandangan semacam ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat pengetahuan masyarakat secara umum tergolong “cukup”, masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dasar dengan pemahaman yang benar tentang penyakit tersebut.
Stigma Sosial
Kesalahan persepsi mengenai penularan TBC dapat menimbulkan dampak sosial yang cukup serius. Ketika masyarakat percaya bahwa penderita TBC harus dijauhi, stigma sosial terhadap pasien akan semakin kuat.
Stigma ini dapat membuat penderita merasa malu atau takut untuk mengungkapkan penyakitnya kepada orang lain. Akibatnya, banyak pasien yang menunda pemeriksaan atau bahkan menghentikan pengobatan karena khawatir mendapatkan perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar.
Padahal, menurut peneliti, secara ilmiah TBC ditularkan melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara, bukan melalui makanan atau alat makan. Kesalahpahaman ini dapat memperburuk upaya pengendalian penyakit karena masyarakat tidak memahami mekanisme penularan yang sebenarnya.
Stigma terhadap penderita TBC juga berdampak pada kondisi psikologis pasien. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien TBC yang mengalami stigma sosial cenderung memiliki tingkat stres, kecemasan, bahkan depresi yang lebih tinggi. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang membutuhkan waktu cukup lama.




