Alat Pendeteksi Getaran Dasar Laut Dipasang di Selat Makassar

Dampak gempabumi dan tsunami di Teluk Palu, September 2018. FOTO: VERRIANTO MADJOWA

Jakarta – Sebanyak 27 unit alat pendeteksi untuk merekam getaran bawah laut dipasang di Selat Makassar.

Pemasangan ini dilakukan Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkolaborasi dengan dengan Tim Universitas Cambridge dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pemasangan Ocean Bottom Seismometer (OBS) atau alat pendeteksi untuk merekam gerakan bawah lautan ini dengan menggunakan Kapal Riset Geomarin III terhitung mulai 15 Agustus 2019 sampai akhir Agustus 2019.

“Pemasangan OBS ini di lakukan sebagai bentuk upaya untuk meminimalisir gempa bumi dan bencana tsunami di Pulau Sulawesi dan Kalimantan,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Agung Pribadi di Jakarta, Sabtu (24/8).

Menurut Agung, pemilihan OBS dikarenakan selain mampu mendeteksi sinyal gempa, juga memiliki kelebihan dalam kapasitas perekaman, analisa yang lebih baik serta sistem peringatan dini yang efektif.

Berdasarkan laporan dari BLU P3GL, kegiatan ini menjadi bagian dari riset pengembangan pemodelan untuk wilayah Sulawesi yang sebelumnya telah dikembangkan oleh ITB dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Hasil pengembangan riset akan jadi rujukan untuk penyusunan kebijakan Pemerintah menetapkan standar bangunan yang tepat dan menyediakan sarana kesiapsiagaan terhadap gempa bumi dan tsunami,” kata Agung.

Sementara itu, peneliti Geologi Universitas Cambridge Simone Pili mengatakan, pemilihan lokasi di Selat Makassar mengacu pada peristiwa gempa bumi dan tsunami pada September 2018. Apalagi daerah antara Kalimantan dan Sulawesi terletak dalam suatu zona kompleks interaksi antara lempeng Australia, Pasifik, Filipina dan Sunda serta beberapa microplate.

“Gempabumi Palu menyebabkan longsoran dasar laut berskala besar yang memindahkan sejumlah besar volume air, sehingga tsunami terjadi,” kata Pili.

Untuk membuktikan hal ini, menurut Pili, diperlukan riset lanjutan agar dapat memberikan gambaran secara menyeluruh struktur geologi, seperti Palu-Koro dan zona subduksi di Selat Makassar dan Laut Sulawesi.

Sebagai informasi, OBS merupakan seismometer (alat pendeteksi) yang dirancang untuk merekam gerakan bumi di bawah lautan dan danau dari sumber buatan manusia dan sumber alam. Sensor di dasar laut digunakan untuk mengamati peristiwa akustik dan seismik.*

Exit mobile version