Karena itulah kita perlu belajar pre-bunking. Terinternalisasi dulu ya, sebelum nulis soal bahaya hoaks,” ujar Irfan yang juga Pemimpin Redaksi Republika.
Sementara itu, Koordinator AMSI Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan, Ronny Kusuma mengatakan, media tak boleh lagi sungkan-sungkan mengambil peran lebih besar dan lebih masif di ruang-ruang medsos demi mencegah merebaknya hoaks, terutama dalam tahun-tahun politik menjelang Pemilu.
“Jangan sungkan-sungkan. Faktanya, sekarang orang mendapat informasi pertama dari medsos. Karena itu, jurnalisme cek fakta harus mengisi ruang-ruang itu. Kita sebar konten-konten sehat di sana sebelum terjadi hoaks,” kata Ronny.
Pelatihan Jurnalisme Pre-Bunking ini digelar di Jakarta, 1-3 November 2022. Pelatihan yang diikuti oleh 21 jurnalis dari 21 media ini menjadi pelatihan kedua, dari lima seri pelatihan serupa yang digelar oleh AMSI.
Peserta dilatih teori Pre-Bunking dan bagaimana memanfaatkan banyak tools untuk melakukan verifikasi sebuah berita atau informasi. Juga memproduksi dan mendistribusikannya ke media sosial.
“Dulu ibaratnya kita seperti pemadam kebakaran. Berita hoaks sudah menyebar, dipercaya masyarakat, dan mungkin sudah membawa akibat kerusakan. Barulah kita luruskan dan memuat penyanggahan. De-Bunking. Hasilnya dianggap kurang efektif. Makanya, sekarang kita perlu strategi baru, Jurnalisme Pre-Bunking, mencegah,” kata Direktur Eksekutif AMSI, Adi Prasetya, yang mensupervisi selama pelatihan berlangsung.





Komentar tentang post