Darilaut – Ditinjau dari kondisi tahun berjalan, 2026 saat ini menempati peringkat kedua sebagai tahun terhangat dalam catatan.
Hal ini berdasarkan suhu rata-rata global dari bulan Januari hingga September, berada di bawah tahun 2024 namun di atas tahun 2023 dan 2025, menurut Copernicus Climate Change Service (C3S).
C3S baru saja menerbitkan Buletin Iklim bulanan terbaru, yang berfokus pada tren iklim utama untuk bulan September 2026.
Seperti halnya tahun 2026, kondisi El Niño yang kuat juga terjadi pada tahun 2023, yang menyebabkan lonjakan tajam pada anomali suhu global di bagian akhir tahun tersebut.
Oleh karena itu, menurut C3S, perbandingan periode Januari–September hanya memberikan indikasi parsial mengenai peringkat tahunan akhirnya.
C3S mengatakan fenomena El Niño yang sedang berlangsung saat ini sudah lebih kuat dibandingkan peristiwa tahun 2023 dan diperkirakan akan semakin menguat menjelang akhir tahun 2026, sehingga meningkatkan potensi terjadinya anomali suhu global yang besar selama sisa tahun tersebut.
Jika tiga bulan terakhir tahun 2026 sama hangatnya dengan tahun 2023, rata-rata tahunannya akan mendekati angka tahun 2024, yang saat ini tercatat sebagai tahun terhangat.
C3S mengatakan di Eropa suhu rata-rata tercatat sebesar 16,26°C—yaitu 1,54°C di atas rata-rata periode 1991-2020—menjadikannya bulan September terhangat ketiga dalam catatan.



