Arlindo di Selat Lifamatola Pintu Masuk Utama Air Pasifik ke Indonesia hingga Samudra Hindia

Arlindo atau Arus Lintas Indonesia di Selat Lifamatola yang berada di Maluku Utara. GAMBAR: BRIN

Darilaut –  Arus Lintas Indonesia (Arlindo)  di Selat Lifamatola yang berada di Maluku Utara salah satu jalur strategis dalam sistem sirkulasi laut global.

Selat Lifamatola terletak antara Pulau Lifamatola dan Pulau Obi berperan sebagai pintu masuk utama air dari Samudra Pasifik ke perairan timur Indonesia hingga ke Samudra Hindia.

Penelitian kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra internasional dari Tiongkok dan Jepang menemukan dinamika pencampuran turbulen air laut dalam di Selat Lifamatola.

Kolaborasi riset ini melibatkan Pusat Riset Oseanologi, Pusat Riset Laut Dalam, serta Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, bekerja sama dengan Institute of Oceanology Chinese Academy of Sciences dan Japan Fisheries Research and Education Agency.

“Selat Lifamatola bukan jalur biasa. Ini adalah pintu masuk utama air dalam Pasifik ke perairan Indonesia Timur. Di sinilah karakter air laut Pasifik diubah sebelum mengalir lebih jauh,” kata Peneliti Pusat Riset Oseanologi BRIN, Adi Purwandana, dalam paparan ilmiah daring Oceanology Talk Series, Kamis (5/2), di Jakarta.

Temuan ini memperkaya pemahaman tentang bagaimana perairan dalam Samudra Pasifik mengalami transformasi sebelum memasuki wilayah perairan Indonesia Timur dan berkontribusi terhadap sistem iklim dunia.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Pusat Riset Oseanologi BRIN ini berhasil memetakan hotspot atau titik panas pencampuran air laut dalam di Selat Lifamatola, yang merupakan satu-satunya jalur laut dalam dengan kedalaman lebih dari 1.900 meter bagi masuknya massa air Pasifik menuju Laut Seram dan Laut Banda.

Adi menjelaskan bahwa Selat Lifamatola memiliki peran yang sangat penting dalam sistem Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF)

Menurut Adi, ITF merupakan sistem arus laut yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, sekaligus berperan dalam distribusi panas, air tawar, dan nutrien secara global.

Topografi Selat Lifamatola yang curam, dikombinasikan dengan pengaruh pasang surut yang kuat, menjadikan kawasan ini lokasi pencampuran vertikal air laut yang sangat intens. 

“Proses tersebut memengaruhi suhu dan salinitas air laut yang berdampak pada dinamika iklim, baik regional maupun global,” ujarnya.

Pencampuran turbulen di selat sempit seperti Lifamatola juga memiliki implikasi ekologis dan lingkungan yang luas, kata Adi.

Selain memengaruhi karakteristik massa air, proses ini diduga berperan dalam transportasi vertikal mikroplastik, sebagaimana ditunjukkan dalam studi-studi terpisah oleh peneliti lainnya.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap kekuatan dan variabilitas pencampuran di kawasan ini menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi prediksi perubahan lingkungan laut.

Riset ini mensintesis data observasi jangka panjang yang dikumpulkan sepanjang 2014 hingga 2023 dengan memanfaatkan berbagai teknologi oseanografi canggih, seperti Conductivity Temperature Depth (CTD), Lowered Acoustic Doppler Current Profiler (LADCP), sensor mikrostruktur vertikal (Vertical Microstructure Profiler/VMP), serta data mooring atau tambatan laut dalam.

Exit mobile version