Melalui kegiatan ini “mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan produk tepat guna dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang tersedia di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya pemanfaatan jeruk nipis sebagai bahan baku aromaterapi, juga membuka peluang pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan keterampilan baru.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, produk berbasis bahan lokal tersebut berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha mikro masyarakat.
Kepala Desa Tolotio bersama pengurus PKK menyambut positif inovasi yang diperkenalkan mahasiswa KKN Profesi Kesehatan UNG.
Selain memberikan alternatif pemanfaatan bahan alam, keterampilan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan pendampingan mulai dari proses persiapan bahan baku hingga pengemasan produk.
Kulit jeruk nipis segar terlebih dahulu dipilah dan dicuci bersih, kemudian dipotong kecil atau diparut tipis untuk membantu melepaskan kandungan minyak atsiri.
Bahan selanjutnya diproses melalui distilasi uap. Uap air panas dialirkan melewati bahan untuk melepaskan molekul minyak atsiri. Campuran uap minyak dan air kemudian dialirkan menuju kondensor hingga mengalami proses pengembunan.




