Hujan dengan intensitas tinggi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas beberapa dinamika atmosfer, antara lain Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra serta Madden-Julian Oscillation (MJO) yang secara spasial aktif di wilayah Sumatra dan Papua.
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 96W di Samudra Pasifik serta sirkulasi siklonik di wilayah Papua turut membentuk daerah konvergensi atau pertemuan angin serta belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.
Dinamika Atmosfer
BMKG mengatakan Dasarian I Juli, sebagian wilayah Indonesia diprakirakan masih berada pada curah hujan kategori rendah, yaitu kurang dari 50 mm per dasarian. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengaruh musim kemarau mulai meluas di berbagai daerah.
Wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan rendah meliputi sebagian besar Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, sebagian Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, serta wilayah Banten hingga Nusa Tenggara Timur.
Pola serupa juga diprakirakan terjadi di sebagian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, sebagian Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, sebagian Maluku, serta sebagian Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.




