PBB menanggapi permintaan bantuan dan memberikan bantuan di daerah yang terkena dampak.
Koordinator Residen dan Kemanusiaan di Libya, Georgette Gagnon, telah menugaskan tim tanggap darurat untuk mendukung otoritas dan mitra lokal.
Sementara Tim Pengkajian dan Koordinasi Bencana PBB (UNDAC) yang beranggotakan 12 orang telah dikerahkan untuk mendukung operasi respons dan bantuan.
Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Martin Griffiths, kemarin mengumumkan alokasi awal sebesar $10 juta dari Central Emergency Response Fund (CERF) untuk mendukung masyarakat yang terkena dampak banjir.
Melansir The Associated Press, tim pencarian telah menyisir jalan-jalan, bangunan yang hancur, hingga ke laut, pada hari Rabu, untuk mencari mayat di kota pesisir Libya di mana runtuhnya dua bendungan menyebabkan banjir bandang besar yang menewaskan sedikitnya 5.100 orang.
Kota Derna di Mediterania kesulitan mendapatkan bantuan setelah banjir Minggu (10/9) malam menghanyutkan sebagian besar jalan.
Pekerja bantuan yang berhasil mencapai kota tersebut menggambarkan kehancuran di pusat kota, dengan ribuan orang masih hilang dan puluhan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.
“Mayat ada dimana-mana, di dalam rumah, di jalanan, di laut. Ke mana pun Anda pergi, Anda akan menemukan pria, wanita, dan anak-anak yang tewas,” kata Emad al-Falah, seorang pekerja bantuan dari Benghazi, melalui telepon dari Derna, mengutip dari The Associated Press. “Seluruh keluarga hilang.”




