Stasiun bumi radar satelit di BROL, Unit Pelaksana Teknis Pusat Riset Kelautan, satu-satunya di Indonesia dan Asia. Dalam pemrosesan, radar satelit menerima langsung downlink data RADARSAT-2 dan COSMO-SKYMED.
Data satelit radar ini dapat dimanfatkan secara langsung oleh Ditjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan – KKP, Satuan Tugas Pemberantasan Penangkapan Ikan secara Ilegal (Satgas 115), Badan Keamanan Laut, TNI AL, Bea Cukai dan POLAIRUD – POLRI.
Integrasi satelit radar dengan VMS memberikan hasil yang lebih baik. Kapal ilegal yang tidak terpantau VMS, tetap diketahui keberadaannya karena terpantau satelit radar.
KKP juga telah mengembangkan radar pantai. Nelayan dapat menggunakan teknologi ini untuk keselamatan di laut. Teknologi ini disebut Wakatobi AIS. Singkatan dari Wahana Keselamatan dan Pemantauan Objek Berbasis Informasi AIS.
Teknologi ini dikembangkan peneliti dan perekayasa Loka Perekayasaan Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi. Wakatobi AIS diciptakan atas identifikasi terhadap tiga masalah utama yang dihadapi nelayan dalam melaut.
AIS transponder berbentuk kotak dengan dimensi 14,5x13x20 sentimeter. Panjang antena 100 sentimeter. Setiap unit memiliki bobot 0,6 kilogram agar bisa diaplikasikan pada kapal/perahu nelayan yang berukuran kecil, khususnya yang armada berbobot di bawah 1 GT.





Komentar tentang post