Menurut Cordova, lebih dari 70 persen sumber mikroplastik berasal dari plastik dengan ukuran besar. Masih banyak pengelolaan sampah yang metodenya kurang tepat, sehingga menyebabkan plastik menjadi ukuran lebih kecil.
Plastik ini tidak akan hilang, hanya akan semakin menjadi tidak terlihat.
Mikroplastik ditemukan hampir dari seluruh matriks sampel ekologi. Seluruh air sampel penelitian yang telah diteliti sebelumnya mengandung mikroplastik.
Selain di air, mikroplastik juga ditemukan di sedimen, bahkan di dalam organisme yang konsentrasinya semakin lama semakin meningkat.
“Ada keterkaitan antara air dengan udara, mikroplastik akan cepat terbang melalui udara karena bobotnya yang ringan, sehingga mikorplastik juga terdapat di udara. Mikroplastik bahkan juga ditemukan di laut dengan kedalaman 2000 meter,” kata Cordova.
Cordova mengatakan bahwa mikroplastik dianggap berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Kecenderungan pertama yang paling mudah adalah masuk melalui saluran pencernaan dan menyebabkan luka. Setelah menyebabkan luka, mikroplastik juga dapat menyerap polutan jenis lain, termasuk material tambahan/ aditif yang ada di dalam plastik seperti zat perwarna plastik.
Masih banyak problematika yang dihasilkan mikroplastik serta dampaknya. Potensi untuk ancamannya semakin terlihat dan jelas, sehingga pencemaran dari mikroplastik ini harus segera ditangani, kata Cordova.




