Cordova menjelaskan, jika secara global belum ada metode standar yang ditetapkan untuk menangani masalah mikroplastik.
Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) harus terlebih dahulu setuju dengan harmonisasi metode sehingga bisa menghasilkan standarisasi angka tertentu untuk nilai baku mutu tertentu.
Kerja sama sangat penting karena pekerjaan ini tidak dapat dilakukan dalam kelompok kecil.
“Tidak mungkin melakukan riset mikroplastik sendiri, riset mikroplastik harus dilakukan bersama-sama baik secara nasional, regional, maupun global,” kata Cordova dalam lokakarya “Determining Microplastic Distribution in Coastal Aquaculture Input System and Developing A Mitigation Plan Towards Seafood Safety APEC OFWG 03 2021A”, di Kuta, Bali, Rabu-Jumat (8-10/11).
Kegiatan ini menghadirkan para ahli dari Australia, Amerika, perwakilan OFWG dari ekonomi Tiongkok, Vietnam, Chili, Thailand, Indonesia, Peru, Singapura, Jepang, dan Malaysia.
Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN Ocky Karna Radjasa, mengatakan, kontaminasi mikroplastik telah menjadi perhatian global. Indonesia saat ini menjadi penyumbang sampah plastik terbesar ke-2 di dunia.
Menurut Ocky, pemerintah tidak hanya mencari solusi dalam menangani sampah dalam arti mengoleksi, memisah, dan membakar, tetapi juga memerlukan dukungan riset terkait dengan inovasi-inovasi dalam menangani sampah, salah satunya sampah mikroplastik.




