Banjir terbaru ini terjadi saat Nepal sedang berupaya pulih dari peristiwa tanggal 26 Agustus, ketika bongkahan besar batuan dan es gletser lepas dari lereng gunung pada ketinggian 5.200 meter dan jatuh ke dasar lembah.
Peristiwa itu memicu banjir besar yang membawa air dan material puing menyusuri sungai Lhende serta sistem sungai Bhote Koshi, menghancurkan permukiman pegunungan dan menelan banyak korban jiwa.
Perubahan pada kriosfer—seperti penyusutan gletser dan mencairnya lapisan tanah beku abadi (permafrost) di pegunungan—serta ketidakstabilan struktural akibat gempa bumi dahsyat lebih dari 10 tahun lalu merupakan faktor-faktor yang kemungkinan berkontribusi terhadap ketidakstabilan lereng.
Menurut para ahli dalam sebuah webinar pada 7 Oktober, suhu yang sangat tinggi sebelum peristiwa runtuhnya material tersebut mungkin telah mempercepat pencairan, dan proporsi curah hujan yang turun sebagai air hujan—alih-alih salju—juga mungkin turut berperan. Associated Programme on Flood Management—sebuah program bersama antara WMO dan Global Water Partnership Organisation—menyelenggarakan webinar bertajuk “Cascading Flood Risks in Mountain Regions: Early Warning, Governance and Resilience” atau Risiko Banjir Berantai di Wilayah Pegunungan: Peringatan Dini, Tata Kelola, dan Ketangguhan.



