“Patahan di bagian selatan Jakarta menghasilkan laju pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun, dengan kedalaman penguncian tujuh kilometer dan sudut kemiringan 63 derajat ke Selatan.”
Temuan tersebut menunjukkan bahwa Jakarta bukan hanya terdampak gempa dari zona megathrust di selatan Jawa, tetapi juga berpotensi diguncang sumber gempa lokal.
Ia menekankan bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan rekomendasi Prof. Kosuke, yakni pentingnya pemantauan deformasi sebagai dasar mitigasi modern. Dengan data tersebut, pemodelan bahaya gempa di kota besar dapat dilakukan lebih presisi, sehingga perencanaan tata ruang dan infrastruktur dapat diarahkan menuju ketahanan bencana.
Narasumber ketiga, Muhammad Al Kautsar dari Badan Informasi Geospasial (BIG), memperkuat urgensi integrasi data GNSS pada skala nasional. Ia menjelaskan bahwa jaringan Continuous Operating Reference Station (CORS) milik BIG telah menjadi tulang punggung pemantauan pergerakan lempeng harian di Indonesia.
Menurutnya, dinamika tektonik Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng besar menjadikan GNSS sebagai teknologi penting untuk memperkirakan potensi gempa dan memonitor deformasi jangka panjang.
“Akibat pergerakan tersebut, Indonesia akan banyak mengalami gempa bumi dan aktivitas gunung berapi,” kata Kautsar.




