Kosuke menyoroti pentingnya pengamatan deformasi menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS). Teknologi tersebut mampu mendeteksi pergerakan mikro antar-lempeng, termasuk proses penguncian atau interseismic coupling di zona megathrust.
“Kopling yang saling mengunci dapat terlihat bahkan di bagian batas dangkal, dan regangan itu terus terakumulasi untuk gempa berikutnya.”
Ia juga menekankan relevansi slow slip event (SSE) atau pergeseran lambat, yang bisa menjadi indikator awal sebelum gempa besar terjadi. Fenomena SSE telah berulang diamati di Nankai Trough dan wilayah Jepang lainnya.
“Salah satu SSE ini mungkin saja memicu gempa palung Nankai berikutnya.”
Menurutnya, Indonesia yang memiliki zona subduksi aktif dari Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku memiliki peluang besar memanfaatkan GNSS untuk mendeteksi preslip secara lebih dini. Ia menutup paparannya dengan menyatakan bahwa dirinya juga sedang mengerjakan penelitian mengenai hal tersebut di Indonesia, termasuk melalui integrasi data geodesi dasar laut.
Pemateri kedua, Dr. Endra Gunawan, Associate Professor di Program Studi Teknik Metalurgi ITB, memaparkan riset terbaru mengenai seismogenic potential Sesar Jakarta dengan metode GNSS slip-rate analysis. Riset ini memanfaatkan data GPS untuk mengukur laju deformasi kerak yang memengaruhi wilayah perkotaan dengan kepadatan sangat tinggi seperti Jakarta.




