Menurut Abdul, sebelum ilmu pengetahuan modern menandainya, Suku Bajau adalah penjaga dan pewaris dari wilayah kelautan yang amat kaya. Suku ini dan World Coral Triangle adalah kesatuan yang tak dapat dipisahkan.
Abdul mengatakan fenomena pasang surut laut sebagai petunjuk kebenaran informasi. Rasi bintang sebagai kompas dan penentuan fishing ground. Pengetahuan tentang laut dalam dan laut dangkal dikaitkan dengan kecelakaan atau karam.
Kini, orang Bajau harus dihadapkan pada tantangan zaman, mulai dari kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat, dan lain-lain. Dulu orang Bajau sangat menjaga lingkungan, namun karena desakan kondisi harus membuat permukiman.
“Mereka akhirnya memanfaatkan terumbu karang sebagai alas untuk pemukiman. Sudah terjadi pergeseran, dan tantangan semacam itu harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Ahli Ekologi Budaya-Adaptasi Perubahan Iklim & Alternatif Pembangunan Chulalongkorn University, Wengky Ariando, menjelaskan riset agenda perjalanan dari masyarakat Sea Nomads.
Menurut Wengky, identifikasi berdasarkan internal kelompok, beda dengan identifikasi diri orang Bajau, karena kebutuhan akademisi dan lainnya. Kelompok nama laut menggunakan istilah yang paling umum digunakan dan dikenal peneliti.
Identifikasi Sea Nomads digunakan sebagai pendekatan antropologi dan diadopsi dalam isu-isu atau pendekatan nasional, ujarnya.




