Perpustakaan Maritim
Dosen Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo sebagai Presiden Kerukunan Keluarga Bajau Indonesia atau Kekar Bajau Indonesia, Abdul Manan, mengatakan, Suku Bajau salah satu warisan komunitas maritim Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Keberadaan mereka sangat penting bagi kelanjutan komunitas maritim.
Berdasakan data sensus BPS pada 2010, Orang Bajau, Bajo, Bayo/Suku Laut (Sea Nomads) berjumlah 24.836 orang. Mereka mengindentifikasi dirinya sebagai Orang Bajau atau Orang Laut.
Menurut Abdul, Suku Bajau adalah perpustakaan maritim yang semestinya dieksplorasi sebagai khazanah dan kekayaan pengetahuan kemaritiman yang saat ini menjadi mata kuliah wajib di perguruan tinggi baik program S1, S2, dan S3.
Kehidupan mereka memiliki nilai intagible (aset yang tidak berwujud atau bentuk fisik), yang tidak bisa dinilai dengan rupiah atau dollar. “Apabila nilai ini hilang, artinya Indonesia kehilangan jati dirinya sebagai negara maritim,” kata Abdul.
Abdul menjelaskan bahwa penyebaran Suku Bajau di Indonesia meliputi wilayah pesisir dan laut, serta pulau-pulau kecil pada 23 Provinsi. Mereka tersebar di wilayah yang tampaknya acak sesuai dengan karakter nomaden dengan menandai luas wilayah.
Dalam pengertian sains modern, kata Abdul, disebut sebagai World Coral Triangle Center. Kekayaan alam lautnya, dari 850 jenis karang yang telah teridentifikasi di dunia, 750 jenis di antaranya ada di kawasan ini. Demikian pula jenis ikan sebanyak 942 jenis.




