Selanjutnya, tidak membuat/ mengembangkan rumah/pemukiman pada lereng curam bagian atas, tengah dan bawah.
Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih mengenal dan memahami gerakan tanah dan gejala yang mengawalinya sebagai upaya mitigasi bencana gerakan tanah, kata Pusat Vulkanologi.
Lokasi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Pulau Siau, batuan penyusun termasuk dalam bagian Formasi Batuan Gunungapi Kalama (QTkv).
Batuan ini tersusun oleh perulangan breksi gunungapi dan lava, bersisipan dengan tuff berbatuapung, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi.
Menurut Pusat Vulkanologi bencana gerakan tanah (tanah longsor) yang terjadi diperkirakan berupa longsoran dan banjir bandang yang dikontrol oleh kondisi geologi dan kemiringan lereng yang curam dan dipicu oleh curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama disertai angin kencang.
Longsoran juga disebabkan oleh erosi dari sungai karena debit air sungai yang sangat tinggi dan air melebihi daya tampung sungai.
Material dari banjir bandang berupa tanah, bebatuan, dan batang kayu. “Jenis bencana ini dapat berpotensi terjadi longsoran dan banjir bandang susulan karena berada di bantaran Sungai, kata Pusat Vulkanologi.




