BRIN sendiri telah memulai pemantauan space debris sejak 2001 dengan memanfaatkan perangkat lunak daring dan data dari Space Track.
Kemudian, pada 2009, tim astronom BRIN mengembangkan perangkat lunak Track-it untuk analisis lintasan obyek antariksa, dan mulai mengobservasi obyek-obyek tersebut dengan kamera DSLR serta teleskop kecil.
Pada 2022, kata Thomas, berhasil membangun sistem observasi fotometrik dengan teleskop kecil di Kupang. Sistem ini telah menghasilkan hampir 100 kurva cahaya dari berbagai obyek antariksa, termasuk satelit komunikasi bekas milik Indonesia yang sudah tidak aktif.
Selanjutnya, pada 2024 BRIN mengembangkan sistem pelacakan otomatis menggunakan teleskop 50 cm.
Sistem ini berbasis skrip Python dan mampu melacak obyek antariksa di orbit MEO dan GEO, meskipun untuk LEO (Low Earth Orbit) masih cukup menantang karena kecepatannya sangat tinggi. Namun, sistem ini tetap bisa efektif untuk obyek LEO dengan ketinggian di atas 1000 km.
Pengembangan sistem pelacakan ini menjadi sangat penting untuk mendapatkan karakteristik gerak dasar dari satelit komunikasi bekas milik Indonesia, serta menjadi kontribusi signifikan dalam upaya mitigasi potensi tabrakan di orbit.
Thomas mengatakan teleskop besar BRIN di Observatorium Nasional Timau berdiameter 3,8 meter juga memiliki potensi besar dalam mendukung program observasi space debris.




