Sejauh ini, kata Semeidi, walaupun ada peningkatan aktivitas gunung api sebagaimana dilaporkan PVMBG, data IDSL/PUMMA tidak menunjukkan anomali yang berpotensi menimbulkan bencana tambahan seperti tsunami.
Di sisi lain, Semeidi menjelaskan, terkait dentuman keras dan getaran yang terasa di Provinsi Banten dan Jawa Barat kemungkinan bersumber dari ledakan atau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, sejauh ini tidak cukup kuat untuk mengganggu muka air sehingga tidak terjadi potensi Atmospheric-tsunami, menurut Semeidi.
Semeidi mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan potensi tsunami hanya melalui informasi resmi dari lembaga berwenang.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Tim akan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi, apabila terdapat perubahan kondisi yang berpotensi membahayakan masyarakat, informasi dan peringatan akan disampaikan melalui kanal resmi,” ujarnya.
IDSL/PUMMA pernah mendeteksi Atmospheric-tsunami Hunga Tonga 2022 di Indonesia, karena ledakan Gunung api di Selatan Pasifik sangat besar.



