Prof. Tangang menekankan bahwa kolaborasi lintas negara menjadi kunci menghadapi risiko perubahan iklim yang tinggi di kawasan ini. Ia bahkan menyebut Pulau Kalimantan atau Borneo, yang terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam, berpotensi menjadi pusat riset bersama.
“Borneo bisa menjadi titik awal kolaborasi konkret untuk membangun ketahanan iklim Kawasan”.
Ia menutup dengan ajakan bagi para ilmuwan agar riset tidak berhenti pada publikasi, tetapi mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebijakan publik.
“Tanggung jawab ilmuwan kini adalah menerjemahkan data menjadi tindakan nyata untuk melindungi masa depan”. (Novita J. Kiraman)




