Sistem hotspot.brin.go.id penting untuk memantau wilayah Indonesia yang luas dan sulit dijangkau secara manual, terutama daerah terpencil. Sistem ini memungkinkan potensi kebakaran diketahui lebih awal sehingga respons di lapangan dapat dilakukan sebelum api meluas, kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Andy Indradjad.
“Sistem deteksi dini ini memungkinkan kita mengetahui sedini mungkin adanya kebakaran di suatu wilayah di Indonesia,” kata Andy, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Sistem hotspot BRIN bekerja berdasarkan prinsip fisika radiasi elektromagnetik. Setiap objek di permukaan bumi memancarkan radiasi termal sesuai suhunya. Sedangkan kebakaran menghasilkan anomali suhu yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
“Temperatur kebakaran diperkirakan sekitar 1.000 Kelvin sehingga dapat dideteksi dengan baik pada panjang gelombang sekitar 4 mikrometer,” ujarnya.
Menurut Andy, waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses ini sekitar 30 menit. Durasi tersebut bergantung pada kecepatan transfer data dari stasiun bumi ke Cloud BRIN,” tuturnya.
Jumlah titik hotspot harian di Indonesia dapat mencapai ribuan, terutama di Sumatera dan Kalimantan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya sistem pemantauan hotspot, mengingat asap kebakaran berpotensi menyebar hingga ke negara tetangga.



