Dalam metode semprot, digunakan cairan yang tidak berbahaya dan tidak menimbulkan iritasi. Cairan ini diteliti oleh ahli-ahli kimia yang ada di ITS.
Selanjutnya, untuk metode ozon, ITS mendapat pendampingan dari RSUA mengenai seberapa besar tingkat ozon yang bisa digunakan dan berapa lama orang tersebut bisa berada di dalam bilik.
Metode ketiga berupa pengkabutan. Mirip dengan sauna sehingga orang yang memasuki bilik tidak akan basah dan diaktifkan dengan ultrasonik.
Untuk bilik disinfeksi nantinya akan dilengkapi dengan teknologi tambahan berupa human thermal imaging yang bisa mendeteksi suhu tubuh seseorang. Adapun cara kerja dari alat pendeteksi suhu ini adalah dengan menggunakan sensor, sehingga seseorang yang memasuki bilik akan secara otomatis terdeteksi sebesar apa suhu tubuhnya.
“Misalnya, dua puluh detik di dalam bilik, nanti ada semacam citra dan kita bisa tahu berapa suhu tubuhnya,” kata Bambang.
Tetapi, alat pendeteksi suhu ini belum bisa disediakan karena ITS dan RSUA harus menyiapkan terlebih dahulu bilik disinfeksi dengan matang. “Ada human thermal imaging yang bisa mendeteksi temperatur seseorang, tetapi itu hanya tambahan, jadi dasarnya harus ada dulu,” ujarnya.
Selain bilik disinfeksi, ITS dan RSUA juga mengembangkan portable hospital. Alat ini berbentuk seperti tenda, desainnya terinspirasi dari seni melipat kertas yang memiliki fleksibilitas, sekaligus kekokohan yang tercipta akibat tekukan-tekukan yang saling bertemu dan mendukung.





Komentar tentang post