”Ketika terbawa angin melintasi wilayah negara, persoalan tersebut berkembang menjadi polusi lintas batas atau transboundary PM2.5,” ujar Ardhi, Jumat (2/10).
Untuk memahami bagaimana polutan tersebut bergerak, Ardhi menggunakan WRF-Chem, yaitu model atmosfer yang menggabungkan simulasi kondisi meteorologi dengan proses kimia di atmosfer. Data emisi dari berbagai sumber dimasukkan ke dalam model bersama informasi meteorologi untuk mensimulasikan penyebaran dan perubahan polutan di atmosfer.
Dalam penelitian ini, data emisi kebakaran juga dikombinasikan dengan data penginderaan jauh, antara lain dari Sentinel dan MODIS/VIIRS, untuk membangun inventori emisi PM2.5.
Menurut Ardhi hasil simulasi awal memperlihatkan bahwa arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang terdampak. Pada Agustus 2026, angin dominan bergerak dari tenggara dan berbelok ke arah timur laut setelah melewati ekuator.
“Pola tersebut memungkinkan PM2.5 dari sumber kebakaran di Indonesia terbawa menuju wilayah Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina dan Thailand,” ujar Ardhi seperti dikutip dari Brin.go.id.
Simulasi juga memperlihatkan konsentrasi PM2.5 yang tinggi di sejumlah wilayah sumber, terutama Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di beberapa lokasi dekat sumber kebakaran, konsentrasi hasil simulasi bahkan mencapai lebih dari 7.500 mikrogram per meter kubik, sementara pada titik tertentu nilai maksimum simulasi pada akhir Agustus mencapai lebih dari 12.000 mikrogram per meter kubik.




