Kemunculan “kedua pulau” tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam, kata Rita.
Interpretasi sementara, menurut Rita, magma encer yang keluar pada saat erupsi menerus mencapai permukaan melalui jalur bukaan yang memanjang dari barat laut ke tenggara, sehingga material erupsi membentuk daratan di lokasi lain yang terlihat dalam bentuk dua gumuk seperti pulau.
Pertumbuhan Tidak Simetris
Hasil penelitian mencatat bahwa pertumbuhan Gunung Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda pada setiap sisinya.

Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi dasar tersebut menyebabkan kedua sektor mempunyai karakter kestabilan yang berbeda.
Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori.
Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian – Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf tersebut.
Penumpukan lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung dan berkaitan dengan ketidakstabilan lereng. Kondisi inilah yang menjadi bagian penting dalam memahami evolusi morfologi Anak Krakatau.



