Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, Senin (21/9) mengatakan bahwa perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” ujar Dini, seperti dikutip dari Brin.go.id.

Proses yang berlangsung sejak Anak Krakatau muncul dari laut, tumbuh hingga ratusan meter, mengalami keruntuhan besar pada 2018, kemudian kembali membangun kerucutnya hingga 2026 menjadi bagian penting untuk memahami evolusi gunung api tersebut.
Lahir 1927
Setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau, dengan kedalaman penyimpanan magma lebih dari 7 km.
Sejarah geologi, sistem Krakatau diketahui telah mengalami sedikitnya dua caldera-forming eruption atau letusan pembentukan kaldera, yakni sekitar abad ke-5 atau 6 dan pada 1883 M.
Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 27 Agustus 1883 ketika letusan mencapai Daya Ledak Vulkanik 6 dan memicu tsunami yang menyebabkan lebih dari 36.000 korban jiwa di kawasan Selat Sunda.



